Sunday, February 8, 2015

Duta Kuliner Nusantara



Aneka hidangan Melayu Kabupaten Kampar di RM Pak Abbas, Pekanbaru - Riau

“Rendang adalah makanan terenak di dunia” hasil pooling salah satu media asing ini memang seperti secercah harapan di dunia kuliner tanah air, yang selama ini berjuang begitu keras di dunia Internasional melawan dominasi kuliner-kuliner Negara lain, tak perlu jauh-jauh, kuliner tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam, lebih dikenal secara Internasional, makanan dan restonya pun lebih mudah didapatkan di berbagai penjuru dunia, jadi apakah boleh puas dengan hasil pooling itu? Pertanyaan yang harus dijawab oleh semua pihak yang peduli terhadap kuliner nusantara. 
Dekade 80-an adalah masa dimana rakyat Indonesia mulai terpapar dengan aneka kuliner asing, di kurun ini berbagai rumah makan asing dan fast food, dari Amerika, Eropa dan Asia, disini citarasa asing seperti aneka pasta, pizza, fried chicken, teriyaki dan aneka makanan asing lainnya mulai dikenal, bangga rasanya saat itu kalau mengunyah pizza dan memesan yakiniku. 

“Serangan” kedua terjadi di millennium ke 3 setelah tahun 2000, kali ini lebih beragam , dengan dominasi kuliner Asia yang booming seiiringan dengan alur bisnis dan sosial serta budaya, makanan seperti Thai, Korea dan Taiwan mulai bermunculan, dan menjadi pilihan banyak orang, tak sedikit banyak yang membuka bisnisnya menjajakan Taiwan noodle atau Tteopoki Korea.

Di saat yang sama penggunaan media sosial begitu maraknya, doa dulu sebelum makan berganti, foto dan share dulu sebelum makan menjadi hal yang sudah biasa. Kembali ke pertanyaan di atas, puaskah kita dengan rendang menjadi makanan terenak sedunia menurut salah satu media, kenyataannya pekerjaan rumah kita masih sangatlah banyak, dari pelaku industri, koki, operator pariwisata, sampai pemerintah dan penggemar kuliner nusantara masih banyak sekali yang belum dikerjakan sehubungan dengan mempopulerkan kuliner nusantara.


Kita, sebagai tuan rumah, sebagai pihak yang seharusnya paling tahu mengenai kuliner nusantara ternyata belum banyak mengetahuinya, mungkin kita mengenal pempek Palembang, rendang minangm gudeg jogja, coto Makassar dan sate lilit Bali, namun begitu ditanyakan mengenai juhu singkah ala Dayak, kapurung ala Luwu, asam pedas Kepulauan Riau, ebatan Sasak , grombyang Pemalang dan pedesan entog Indramayu hampir semua menggelengkan kepala tanda tidak pernah mendengarnya, apalagi merasakan citarasanya.


Hal serupa dapat dirasakan dalam industri, seperti kurikulum kuliner Nusantara yang masih terbatas, beberapa institusi pendidikan memang sudah mulai menjadikannya sesuatu yang layak dan harus diperhatikan, namun sebagian besar masih berpegang pada “French cookery” sebagai komponen utama pendidikan, lebih biasa dan bisa membuat saus demi glace dan béchamel dibanding bumbu base genep bali dengan belasan isi bumbu atau kuah pecak betawi dengan aneka bumbu dapur bakar.


Dibalik berbagai keterbatasan itu, ada harapan bagi kuliner nusantara, dengan advokasi berbagai pihak, sekarang kuliner nusantara sedikit demi sedikit mulai menampakkan “taji” nya, jamuan kenegaraan mulai melirik kekayaan nusantara yang satu ini, berbagai media pun berlomba memberitakannya, sepertinya tidak sah sebuah media umum apabila belum pernah membahas kuliner.


Di sini peran masyarakat secara umum juga menjadi sangat penting , warga mempunya hobi icip-icip ini adalah duta kuliner sesungguhnnya, kebiasaan penggunaan medsos yang sangat tinggi di tanah air dapat disalurkan untuk mendukung hal tersebut, alih-alih hanya mengunggah sebuah foto sate ayam dan bilang “ enak niii” informasi dan dokumentasi lebih detail bisa dilakukan, penulisan pada blog, penjelasan lebih lanjut pada akun instagram, youtube, twitter maupun facebook membuatnya menjadi sesuatu yang layak diperbincangkan, sesuatu yang hits, menjadi trending topic, yang pada gilirannya membuat meningkatkan awareness dan demand serta dengan sendirinya diharapkan bisa menjadi bentuk preservasi dari kuliner tersebut.

Meliput pembuatan ayam bacem Mbah Cemplung di Bantul, DIY

Salah satu upaya penting untuk kita semua penggemar kuliner adalah cerdaskan lidah kita, kembangkan wawasan citarasa dengan tidak segan mencoba jenis kuliner nusantara baru dari seluruh Indonesia, saat makan di luar, saat travelling atau dinas ke luar kota, sempatkan cari informasi mengenai makanan khas yang ada, icip dan “liput” , bagikan pada “dunia” melalui saluran-saluran yang dipunyai, dari twitter sampai grup Whats App bisa dimanfaatkan puluhan sampai ribuan orang akan terpapar informasi baru mengenai kuliner nusantara, 1 persen yang kemudian mencobanya pun menjadi penting, menjadikannya sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan.


Mengenai kulinernya sendiri, ada banyak sekali kota dan daerah yang masih bersifat “hidden gem” sebuah kekayaan tersembunyi yang sebetulnya sangat layak kita jelajahi , seperti Kalimantan Tengah, berbagai kuliner khas Dayak dapat kita nikmati di sini, di Ibukota propinsi Palangkaraya pun aneka juhu (sayur rebus dayak) dengan isian eksotis seperti singkah enyuh (umbut kelapa) dan singkah uwei (umbut rotan) dapat kita nikmati, juga berbagai kandas (sambal ala dayak). 

Di Toraja, dua masakan popular di sana adalah pamarassan, makanan yang menggunakan kluwek (lokal menyebutnya pamarassan) dengan isian ikan mas, lendong (belut) atau protein lainnya dipadu dengan lada katokkon (cabai lokal yang pedas) serta kalokko (kulit kluwek) juga bisa dicoba pa’piong cara masak bakar di bambu dengan isian ayam, ikan mas dll, menggunakan herba lokal utan bulunangko (daun miyana) yang aromatik. Bergeser ke Madura ada kuliner bernama urap alur, urap sayur namun menggunakan tumbuhan mangrove bernama alur yang khas dan unik teksturnya , juga aneka nasi Madura seperti nasek jagung, nasek jejen, nasek serpang yang sulit ditemui di luar Pulau Madura, nah tunggu apa lagi, kita bisa menjadi “duta” kuliner nusantara.

Tulisan untuk Majalah Martha Stewart Living Indonesia 

4 comments:

  1. Yaaa Olloh ... liat foto pertama itu nikmat mana yg kau dustakan !!!!!!! Endesss bikin ngilerrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. bingung ya mau mulai dr mana dulu, saran aku cemil ayam dan udang gorengnya :D

      Delete
  2. mbah cemplung skrg cabangnya ada di jalan kabupaten, selatan jambon resto di daerah jalan Godean ^_^

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum wrb, saya mohon maaf kalau postingan saya menyinggung perasaan anda semua tapi saya lillahi ta’ala hanya mau menceritakan pengalaman pribadi saya saya berharap ada yang sama seperti saya.perkenalkan terlebih dahulu saya aini andari tinggal di Padang,dulu saya penjual kue keliling himpitan ekonomi yang membuat saya seperti ini,saya tidak menyerah dengan keadaan saya tetap usaha,pada suatu malam saya buka internet tidak sengaja saya lihat postingan seseorang yang sama seperti saya tapi sudah berhasil,dia dibantu oleh nyi rawih tampa pikir panjang saya hubungi beliau saya dikasi pencerahaan dan dikasi solusi,awalnya saya tidak mau tapi sya beranikan diri mengikuti saran beliau,alhamdulillah berjalan lancar sekarang saya punya toko bangunan Jaya Abadi didaerah Padang,terimah kasih saya ucapkan pada Nyi rawih berkat beliau saya seprti ini,mungkin banyak orang yang menyebut saya mengada-ada tapi saya buktikan sendiri,khusus yang serius mau bantuan silahkan hub beliau nyi rawih beliau orangnya baik ini nomor beliau 082250546417 atau klik UNTUK INFO LEBIH JELAS KLIK DISINI ini pengalaman pribadi saya percaya atau tidak semua tergantung pembaca demi Allah ini nyata sekian dan terima kasih ,Assalamualaikum Wrb....allahuakbar....allahuakbar....allahuakbar

    ReplyDelete