Thursday, February 12, 2015

Kenduri, berbagi kebahagiaan ala orang Betawi


Kenduri atau kendurian sendiri artinya adalah perayaan, yang dirayakan bisa macam-macam hari hari besar agama seperti Idul Fitri, Idul Adha, kelahiran sang jabang bayi, menempati rumah baru, khitanan, kawinan sampai naik pangkat. Tentunya setiap kendurian , aneka makanan-makanan lezat dihidangkan untuk menjamu para tetamu, meja panjang biasanya disiapkan di halaman rumah, pisang raja dan mas digantung per tandan siap dicomot, di meja gelas2 kopi tubruk dan teh manis disiapkan. Piring2 berisi aneka makana kecil mendampingi kopi teh itu , biasanya ada dodol, kue pepe, talam dan lain-lain, tidak lupa gelas2 berisi rokok kretek juga disiapkan.

        Makanan kecil yang disiapkan saat kendurian bervariasi, selain sesuai selera yang punya hajat juga disesuaikan dengan acaranya. Acara kawinan biasanya ada kue-kue lengket kayak dodol, tape uli, talam, wajik dan kue pepe. Untuk acara lebaran lebih banyak kue-kue kering disajikan seperti kembang goyang, akar kelapa, kue putu kering, kue biji kacang, dodol,  wajik, geplak dan bluluk (manisan kolang-kaling merah atau hijau), semua makanan ini bisa bertahan selama beberapa hari, pas untuk silaturahmi Idul Fitri yang kadang-kadang bisa memakan waktu seminggu setelah Lebaran.


            Selain makanan yang harus diperhatikan saat kendurian biasanya adalah berbagai protocol seperti baju apa yang harus dipakai baik oleh tuan rumah dan tetamu, urutan-urutan acaranya , kalau kelahiran bayi misalnya selalu ada pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran demi kebaikan sang bayi di masa depan, atau pengajian dan siraman rohani dari pemuka agama saat acara khitanan.


            Untuk makanan utama biasanya disiapkan di bagian belakang rumah dibantu oleh para tetangga, bantuan bisa berupa bahan makanan seperti beras, kelapa, telor atau daging dan bisa juga berupa tenaga untuk memasak, sebuah kegiatan komunal yang begitu mencerminkan kegotongroyongan khas Betawi. Di pojokan halaman belakang disiapkan untuk arena ngaduk dodol dalam kuali-kuali tembaga berukuran super besar, sang dodol harus didayung (diaduk pake kayu berbentuk dayung) selama 7 jam, nggak boleh berhenti biar nggak gosong. Adonan dari tepung beras ketan, gula merah dan santan diaduk bergantian sampai matang, biasanya hanya ada 1-2 orang saja yang mempunyai kuali tembaga di setiap kampungnya. Sang pemilik tentunya dengan senang hati menminjamkan kuali ke para tetangga dan saudara dekat saat ada acara, bonusnya adalah kerak dodol yang tertinggal di kuali yang merupakan hak si pemilik , kerak dodol ini dikenal legit banget.

Setampah nasi begana kumplit buat kendurian Betawi

            Setelah ngaji dan berdoa bersama baru deh makan besar bisa dimulai. Kendurian yang masih traditional biasanya menyiapkan tampah-tampah berukuran besar berisi aneka hidangan. Yang paling ngetop adalah Nasi Kebuli kambing atau ayam lengkap dengan acar dan sambel goreng ati kentang. Kuliner betawi dengan pengaruh timur tengah ini dikonsumsi langsung dari tampah secara beramai-ramai dengan menggunakan tangan (udah cuci tangan tentunya).


Walau Nasi Kebuli udah kayak wajib hukumnya buat suguhan kendurian, Nasi Begana juga sering disajikan, Nasi Putih dengan berbagai lauk seperti urap sayur, perkedel, empal daging dan serundeng jahe. Selain ngirit piring sebenarnya makan ala komunal ini banyak filosofinya, selalin membuat para tetangga dan kerabat makin akrab juga makan jadi lebih enak, kan makan rame-rame lebih enak daripada makan sendiri bukan. Nasi Ulam kumplit dan Nasi Uduk plus perabotannya juga biasa disajikan saat kendurian ini.


Makanan yang nggak habis ga boleh dibuang gitu aja tapi biasanya dibungkus buat keluarga dirumah, jaman dulu sih bungkusannya cukup daun pisang atau besek, sekarang jaman udah modern bungkusan tidak ramah lingkungan malah dipakai, dari box, plastik mika sampai Styrofoam. Diharapkan makanan yang dibawa pulang ini membawa berkah buat keluarga dirumah yang tidak sempat menghadiri kendurian, dari sini nama nasi berkat berasal.

Tulisan untuk Seri Kuliner Pustaka Rumah 

4 comments:

  1. Sewaktu kecil saya excited sekali tiap kali alm. Ayah pulang membawa berkat. Meskipun masakannya bisa tiap hari dinikmati di rumah,tapi rasanya beda jika dimasukkan di menu berkat. Sampai2 Orang tua saya sering menggoda, kata mereka nanti besar jangan nikah dgn foreigner ya, nak. Mereka ga bakalan mau pergi kendurian dan bawain kamu berkat Hahahahaha :D

    ReplyDelete
  2. Sewaktu kecil saya excited sekali tiap kali alm. Ayah pulang membawa berkat. Meskipun masakannya bisa tiap hari dinikmati di rumah,tapi rasanya beda jika dimasukkan di menu berkat. Sampai2 Orang tua saya sering menggoda, kata mereka nanti besar jangan nikah dgn foreigner ya, nak. Mereka ga bakalan mau pergi kendurian dan bawain kamu berkat Hahahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe kalau bule malah kitanya ya yang bawa makanan, masih kebagian berkat dengan cup2 plastik kecil isi lauk nggak, atau takir2 dari daun

      Delete
  3. Kalau di Jawa itu mirip makanan terenak yang dinantikan tiap usai sholat idul fitri/adha di langgar/mushola/masjid sebelum halal bihalal. Ada ayam panggang, telur goreng yang dimulai, sambal goreng kentang, urap dll. Kadang juga buat selamatan/kenduri. Sekarang sudah agak jarang yang pakai wadah daun pisang diganti plastik, dan ada yg mulai melarang, padahal itu ajang silaturahmi sekaligus wisata kuliner.

    ReplyDelete